naskah drama 8 orang bertemakan pejuangan bagi kawan kawan yang mencari naskah drama 8orang baiklah agan akan memberikan sebuah naskah drama 8 orang yang bertema perjuangan
PEMAIN :
Siluet Perjuangan
Karya : Sunthi Fatimah
Batu pun bisu ketika pecah
Mata air berhenti mengalir
Udara tak bergerak mengelilingi semesta
Hanya benci berkabut dalam jiwa
Senandung nadi berdecak cepat
Saat kau memekikkan ketakutan itu
Akar-akar musnah
Gersang menerjang
Hari itu
Aku berharap tengah bermimpi
Mimpi buruk yang seharusnya hilang
Ketika kubuka mata
Sayang,...
Tak ada mimpi
Genderang itu nyata
Menerobos selubung hatiku
Dan menusuknya keras
Duniaku mati
Ditelan mimpi nyata
Demi siluet perjuangan tanpa akhir
PEMAIN :
Siluet Perjuangan
Karya : Sunthi Fatimah
Batu pun bisu ketika pecah
Mata air berhenti mengalir
Udara tak bergerak mengelilingi semesta
Hanya benci berkabut dalam jiwa
Senandung nadi berdecak cepat
Saat kau memekikkan ketakutan itu
Akar-akar musnah
Gersang menerjang
Hari itu
Aku berharap tengah bermimpi
Mimpi buruk yang seharusnya hilang
Ketika kubuka mata
Sayang,...
Tak ada mimpi
Genderang itu nyata
Menerobos selubung hatiku
Dan menusuknya keras
Duniaku mati
Ditelan mimpi nyata
Demi siluet perjuangan tanpa akhir
SILUET PERJUANGAN
Karya : Sunthi Fatimah
PEMAIN :
:
BUNG TOHA
:
BUNG MAHMUD
:
KOMANDDAN BELANDA
:
BUNG FAJAR
:
PRAJURIT BELANDA
:
SAUDARI SANDRA
:
SAUDARI TIKA
:
SAUDARI DEWI
Pada zaman penjajahan, terdapat
pemuda pemudi yang gagah berani memperjuangkan kemerdekaan dinegeri kita ini, INDONESIA negeri 8 penjuru
mata angin dari tangan para penjajah biadab yang menginjak-injak harga diri
bangsa tanpa rasa bersalah. Bagaimanakah cara para pemuda tersebut merebut
kemerdekaan??? Langsung saja kita saksikan dalam drama berbabak SILUET
PERJUANGAN yang di perankan oleh siswa-siswi SMA Negeri 2 Baubau
ADEGAN I
[lighting menyala perlahan.
Musik pagi, setting latar beberapa pejuang tengah tertidur. Di kanan kiri
mereka, lengkap senjata siap pakai]
Saudari Sandra : (bangun tidur, menatap
sekeliling memastikan ia baru bangun dari mimpi buruk, namun mendapati mimpi
itu berlanjut)“Bung Mahmud, bangunlah.” (membangunkan teman
seperjuangannya)
Bung Mahmud : (mendesah pelan penuh
beban) “Kupikir aku baru saja mimpi buruk.”
: (ikut terbangun dan mengiyakan ucapan Bung
mahmud) Ada apa ini??
Saudari Sandra : (tertawa keras membuang
kecewa yang sama) “Jangan bercanda, bung. Baru kemarin kita lari dari gua
persembunyian, karena penjajah-penjajah kurang ajar itu sudah meledakkannya.
Itu bukan mimpi.”
Saudari Dewi : (baru keluar dari tenda
sederhana) “Ssssttt… Kalian berisik sekali, bagaimana jika para Belanda itu
mendengarnya?”
Bung Mahmud : (menyambung tawa Saudari
Sandra) “ Jangan bercanda saudari Dewi! Kita ini di pusat hutan Kalimantan.
Hanya orang Kalimantan asli yang bisa selamat di hutan ini. Sedangkan para
Belanda itu, akan lenyap di telan monster sungai Kalimantan!”
Saudari Sandra : “Benar sekali.”
Saudari
Dewi : (tampak memikirkan
perkataan kedua rekannya)
B Mahmud
: (berdiri menatap
kedepan, mengingat yang lalu) “Jika gua persembunyian kita di tempat
keramat Kalimantan saja bisa mereka ledakkan, tak mustahil untuk membakar hutan
ini atau pun menguras sungai kita.”
Saudari
Dewi : (wajahnya
menggambarkan rasa takut dan merinding yang luar biasa)”Apa yang di
katakan bung mahmud ada benarnya”
[musik
memanas]
Bung
Fajar : (masuk ke
panggung dengan peluh dan ketakutan) “Sial!
Saudari
Sandra, B. Mahmud dan Saudari Dewi : Ada apa????
Bung Fajar : Aku baru saja melihat pasukan
armada laut Belanda menyusuri sungai ke arah jam 12”
Saudari
Sandra, B. Mahmud dan Saudari Dewi : “APAAA??!”
Bung Fajar : (mengangguk)
“Sepertinya, mereka mencium jejak kita. Kita harus memblokade akses menuju
pusat hutan.”
Saudari Sandra : “Jika itu benar, kita harus
bertindak segera! Saudari Dewi, tetaplah disini bersama Saudari Tika.”
Bung Mahmud : (tak terima dengan
pendapat saudari
sandra) “Kita tak bisa meninggalkan mereka, Sesuatu bisa saja terjadi.”
Saudari Dewi : (giliran tak terima
dengan pendapat Bung mahmud juga saudari sandra) “Hei! Aku tak selemah yang
kalian kira!”
[musik semakin meninggi]
Saudari Sandra : (marah) “Saudari Tika dalam keadaan kritis, kita
tak bisa membawanya menghadap musuh.”
Bung
Mahmud : “Justru karena dia
kritis, aku tak ingin kehilangan untuk kesekian kalinya! Bahaya bisa mengancam kapan saja.”
Saudari Sandra : (Emosi membara) Tapi,...
B. Mahmud : “Kontrol emosimu,
saudaraku. kita tak bisa meninggalkan mereka disini. Lampiaskan saja amarahmu
pada para manusia biadab yang telah menyebabkan kita terpisah dari orang-orang
yang kita cintai.”
Saudari
Sandra : “Jagalah mereka, Mahmud!” (pergi mengajak
Fajar)
: “Jika sesuatu mengancam, kirimkanlah sinyal
kepada kami di arah jam 12. Kami akan membinasakan mereka sebelum mereka sampai
kemari.” (pesannya pada Bung Mahmud dan Saudari Dewi)
[ Bung Fajar, Saudari Sandra, keluar panggung
dengan tergesa.]
[Lighting redup]
ADEGAN II
Saudari Dewi : “Seandainya, hari itu aku
tidak meninggalkannya di reruntuhan dinding gua. Mungkin sekarang ia bersama
kita disini.” (menyesal)
B. Mahmud : (mempersiapkan)
“Janganlah kau tenggelam dalam angan-angan, Saudari Dewi. Kematian Bung Rendra
sudah ditakdirkan, ikhlaskan saja.” (mengambil senjata) “Daripada kau terus
menyesal, sebaiknya bantu aku untuk menyiapkan penjagaan.”
Saudari Dewi : “Saat itu Rendra berjanji
padaku, jika negeri ini merdeka kami akan berbulan madu bersama.”
B. Mahmud : “Sudahlah. Kita boleh berencana
tetapi Tuhan yang punya kehendak.”
Saudari Tika : (keluar dari tenda
dengan pakaian yang berantakan dan merangkak) “Saudari Dewi, bisakah aku
meminta air?” (pintanya parau)
Saudari
Dewi : (mendatangi saudari
Tika dengan memberi sebotol air minum dan makanan yang tersedia, mendudukkan
Saudari Tika) “Saudari Tika, kulihat keadaanmu membaik.”
Saudari
Tika : (memaksakan diri
untuk tersenyum, meneguk air dan menyantap makanan) “Dimana yang lain,
saudari Dewi?” (tanyanya bingung menyaksikan kesunyian)
Saudari
Dewi : “Mereka…” (belum
sempat menjawab, dua pasukan armada Belanda datang)
Komandan
: (mendorong dewi dan
bung mahmud) “Jadi disinikah kalian tinggal? Menyedihkan.” (merendahkan)
B mahmud : Saudara Tika!!!! Lepaskan dia
Komandan : “Shut up! Kalian. Apa kamu ingin temanmu aku tembak?” (kemudian berlajan mendekati saudari Tika
dengan tatapan kejam)
B Mahmud : “Jangan sentuh dia.” (sergahnya
dengan lantang tanpa bergetar sedikitpun nada ucapannya)
Komandan : (menembak kaki B. Mahmud) Oh,
kalian tidak ingin dia yang aku sandra, “Jika dia tak boleh,
bagaimana dengannya?” (melempar
tika lalu berpaling dan menodongkan pistol pada Dewi)
Prajurit : (masuk ke panggung)
“Lapor Komandan! Barisan kapal armada laut meledak di arah jam 12. Kita harus
memeriksanya segera.”
Komandan : (merasa terganggu
kesenangan yang belum sempat dimulainya) “Baiklah. Kau dan dia pergilah
untuk memeriksa.” (mengambil alih senjata milik Prajurit I)
Prajurit : “Tapi Komandan…”
Komandan : “Ahhh,Sudahlah pergi! Ini perintah. Aku akan
baik-baik saja. Si
pemuda itu pun sudah terluka.
Prajurit : “Terus, bagaimana dengan gadis ini komandan”
Komandan : “Bawa Gadis penyakitan itu dan lemparkan dia ke sungai!”
Saudari
Tika : Hentikan.........(meronta-ronta)
B Mahmud
: “Dasar bedebah!” (Mencoba
menyelamatkan Tika)
Prajurit : (menikam Bung Mahmud)
Komandan : “Beraninya dia melakukannya, dasar bodoh…Tenggelamkan
mayatnya di sungai. Cepat!”
Saudari Tika : (histeris) Bung
Mahmud…………
Prajurit : dasar tidak berguna....(menyeret mayat Bung Mahmud keluar panggung)
ADEGAN III
Saudari Sandra : (masuk panggung dengan
pakaian penuh lumpur) “Tika, … Apa yang terjadi?” (terkejut, menjatuhkan
senjatanya dan segera mendatangi rekan-rekannya)
Saudari
Tika : eeeeeee....... (terbata-bata)
Saudari Sandra : “Aku terpisah dari yang lain ketika meledakkan barisan
kapal armada Belanda, aku tak ingin kehilangan kalian pula. Bertahanlah.
Bagaimana dengan yang lain???”
Saudari
Tika : Musnah sudah,.......
Bung Mahmud telah tewas oleh para belanda itu demi menyelamatkan aku. Dan
mayatnya di buang ke sungai. Sedangkan dewi.......
Saudari Sandra : (berbalik mencari arah ketakutan Tika) bedebah
mereka,.... kenapa dewi,.. ada apa???
Komandan
: “Darimana makhluk
menjijikan ini datang!”
Saudari Sandra : “Saudari Dewi! Apa yang kau.........” (tak
menyangka) “jika aku mengiramu tangguh, ternyata semuanya salah! Kau hanya pengecut dan pengkhianat!” (makinya)
Komandan
: (hendak menembak Bung
Rizal namun dihalangi Saudari Dewi) Banyak omong kau makhluk menjijikan...
Saudari
Dewi : “Jangan kau bunuh dulu
sayangku, dia berhak tau motifku yang sebenarnya.”
Saudari Sandra : “Motif katamu. Motifmu hanya kebusukkan!”
Saudari Dewi : (berkeliling mendekati
Saudari Tika) “Oh, tentu saja bukan Sandra. Aku tak seperti yang kau kira.
Aku hanya tak ingin menderita sepertinya. (sombong dan merasa benar pada
tidakannya)
Saudari Sandra : (merasa jijik pada
Saudari Dewi) “Kau pengecut. Kau lupa janjimu pada Rendra. Kau lupa janjimu
pada negeri ini. Kau lupa dirimu!”
Saudari Dewi : (menatap tajam Saudari
Sandra) “Aku tidak menjanjikan apapun pada Bung Rendra! Kecuali janjiku
untuk membahagiakan diriku. Aku adalah kepentinganku. Sedangkan Negara bukanlah
kepentinganku!”
Komandan : (menembak Saudari Dewi, kembali
jeritan terdengar) “Aku benci orang yang mengkhianati negaranya!” (brutal,
menembak Saudari Sandra, menembak Saudari dewi, dan menembak Tika namun pelurunya habis) “Sial! Pistol brengsek!” (membuangnya,
hendak mengambil senjata milik yang tergeletak di tanah namun tertembak lebih
dulu)
Bung Toha : (masuk panggung dengan
berteriak lantang) Hentikan.........
“Jangan sakiti rekan-rekanku!”
Bung Fajar : (kaget) apa yang
terjadi??
Bung Toha : Sudah terlambat Bung Fajar,
mereka telah menyerang markas kita!!!
Bung Fajar : “Matilah kau!” (ingin menembak)
Saudari Sandra : “Jangan! Jangan Bung
Fajar!” (berbicara dengan tersengal dan susah payah) “Gunakan mereka
untuk informasi yang kita butuhkan!”
Bung Toha : (terduduk di samping
Saudari Sandra) “Kupikir aku takkan pernah melihatmu lagi.” (membantu
Saudari Sandra)
Komandan : “Ya, mungkin sebentar lagi.
Peluruku menembus tubuhnya tak jauh dari jantung!”
Bung Toha : (menembak kepala
Komandan) Dasar
Biadab..... Rasakan ini......
Saudari Tika : (terpejam dalam tangis) Saudari Sandra,.... Bertahanlah....
Saudari Sandra : “Sudahlah tika,... Sebentar lagi, aku menyusul Bung
Mahmud. Dia sedang menungguku.” (ucapnya lirih)
Bung
Toha : “.Aku disini juga
menunggumu.”
Saudari Sandra : “Jika kalian bertemu dengan
anak-anakku…” (merogoh kantung dan mengeluarkan selembar foto)
“Ceritakan sejarahku pada mereka, hanya untuk mereka bukan untuk di
besar-besarkan.” (semakin lemah) “Mereka harus tahu, siapa ayahnya.” (terpejam)
“Merdekakan negeri kita, Bung!”
Saudari Tika : Sandra……… Sandra……….
Bung Toha : “Tentu saja! Kita akan
merdeka. AKU BERJANJI. KITA AKAN MERDEKA!”
Siluet Perjuangan
Karya : Sunthi Fatimah
Batu pun bisu ketika pecah
Mata air berhenti mengalir
Udara tak bergerak mengelilingi semesta
Hanya benci berkabut dalam jiwa
Senandung nadi berdecak cepat
Saat kau memekikkan ketakutan itu
Akar-akar musnah
Gersang menerjang
Hari itu
Aku berharap tengah bermimpi
Mimpi buruk yang seharusnya hilang
Ketika kubuka mata
Sayang,...
Tak ada mimpi
Genderang itu nyata
Menerobos selubung hatiku
Dan menusuknya keras
Duniaku mati
Ditelan mimpi nyata
Demi siluet perjuangan tanpa akhir
SILUET PERJUANGAN
Karya : Sunthi Fatimah
PEMAIN :
:
BUNG TOHA
:
BUNG MAHMUD
:
KOMANDDAN BELANDA
:
BUNG FAJAR
:
PRAJURIT BELANDA
:
SAUDARI SANDRA
:
SAUDARI TIKA
:
SAUDARI DEWI
Pada zaman penjajahan, terdapat
pemuda pemudi yang gagah berani memperjuangkan kemerdekaan dinegeri kita ini, INDONESIA negeri 8 penjuru
mata angin dari tangan para penjajah biadab yang menginjak-injak harga diri
bangsa tanpa rasa bersalah. Bagaimanakah cara para pemuda tersebut merebut
kemerdekaan??? Langsung saja kita saksikan dalam drama berbabak SILUET
PERJUANGAN yang di perankan oleh siswa-siswi SMA Negeri 2 Baubau
ADEGAN I
[lighting menyala perlahan.
Musik pagi, setting latar beberapa pejuang tengah tertidur. Di kanan kiri
mereka, lengkap senjata siap pakai]
Saudari Sandra : (bangun tidur, menatap
sekeliling memastikan ia baru bangun dari mimpi buruk, namun mendapati mimpi
itu berlanjut)“Bung Mahmud, bangunlah.” (membangunkan teman
seperjuangannya)
Bung Mahmud : (mendesah pelan penuh
beban) “Kupikir aku baru saja mimpi buruk.”
: (ikut terbangun dan mengiyakan ucapan Bung
mahmud) Ada apa ini??
Saudari Sandra : (tertawa keras membuang
kecewa yang sama) “Jangan bercanda, bung. Baru kemarin kita lari dari gua
persembunyian, karena penjajah-penjajah kurang ajar itu sudah meledakkannya.
Itu bukan mimpi.”
Saudari Dewi : (baru keluar dari tenda
sederhana) “Ssssttt… Kalian berisik sekali, bagaimana jika para Belanda itu
mendengarnya?”
Bung Mahmud : (menyambung tawa Saudari
Sandra) “ Jangan bercanda saudari Dewi! Kita ini di pusat hutan Kalimantan.
Hanya orang Kalimantan asli yang bisa selamat di hutan ini. Sedangkan para
Belanda itu, akan lenyap di telan monster sungai Kalimantan!”
Saudari Sandra : “Benar sekali.”
Saudari
Dewi : (tampak memikirkan
perkataan kedua rekannya)
B Mahmud
: (berdiri menatap
kedepan, mengingat yang lalu) “Jika gua persembunyian kita di tempat
keramat Kalimantan saja bisa mereka ledakkan, tak mustahil untuk membakar hutan
ini atau pun menguras sungai kita.”
Saudari
Dewi : (wajahnya
menggambarkan rasa takut dan merinding yang luar biasa)”Apa yang di
katakan bung mahmud ada benarnya”
[musik
memanas]
Bung
Fajar : (masuk ke
panggung dengan peluh dan ketakutan) “Sial!
Saudari
Sandra, B. Mahmud dan Saudari Dewi : Ada apa????
Bung Fajar : Aku baru saja melihat pasukan
armada laut Belanda menyusuri sungai ke arah jam 12”
Saudari
Sandra, B. Mahmud dan Saudari Dewi : “APAAA??!”
Bung Fajar : (mengangguk)
“Sepertinya, mereka mencium jejak kita. Kita harus memblokade akses menuju
pusat hutan.”
Saudari Sandra : “Jika itu benar, kita harus
bertindak segera! Saudari Dewi, tetaplah disini bersama Saudari Tika.”
Bung Mahmud : (tak terima dengan
pendapat saudari
sandra) “Kita tak bisa meninggalkan mereka, Sesuatu bisa saja terjadi.”
Saudari Dewi : (giliran tak terima
dengan pendapat Bung mahmud juga saudari sandra) “Hei! Aku tak selemah yang
kalian kira!”
[musik semakin meninggi]
Saudari Sandra : (marah) “Saudari Tika dalam keadaan kritis, kita
tak bisa membawanya menghadap musuh.”
Bung
Mahmud : “Justru karena dia
kritis, aku tak ingin kehilangan untuk kesekian kalinya! Bahaya bisa mengancam kapan saja.”
Saudari Sandra : (Emosi membara) Tapi,...
B. Mahmud : “Kontrol emosimu,
saudaraku. kita tak bisa meninggalkan mereka disini. Lampiaskan saja amarahmu
pada para manusia biadab yang telah menyebabkan kita terpisah dari orang-orang
yang kita cintai.”
Saudari
Sandra : “Jagalah mereka, Mahmud!” (pergi mengajak
Fajar)
: “Jika sesuatu mengancam, kirimkanlah sinyal
kepada kami di arah jam 12. Kami akan membinasakan mereka sebelum mereka sampai
kemari.” (pesannya pada Bung Mahmud dan Saudari Dewi)
[ Bung Fajar, Saudari Sandra, keluar panggung
dengan tergesa.]
[Lighting redup]
ADEGAN II
Saudari Dewi : “Seandainya, hari itu aku
tidak meninggalkannya di reruntuhan dinding gua. Mungkin sekarang ia bersama
kita disini.” (menyesal)
B. Mahmud : (mempersiapkan)
“Janganlah kau tenggelam dalam angan-angan, Saudari Dewi. Kematian Bung Rendra
sudah ditakdirkan, ikhlaskan saja.” (mengambil senjata) “Daripada kau terus
menyesal, sebaiknya bantu aku untuk menyiapkan penjagaan.”
Saudari Dewi : “Saat itu Rendra berjanji
padaku, jika negeri ini merdeka kami akan berbulan madu bersama.”
B. Mahmud : “Sudahlah. Kita boleh berencana
tetapi Tuhan yang punya kehendak.”
Saudari Tika : (keluar dari tenda
dengan pakaian yang berantakan dan merangkak) “Saudari Dewi, bisakah aku
meminta air?” (pintanya parau)
Saudari
Dewi : (mendatangi saudari
Tika dengan memberi sebotol air minum dan makanan yang tersedia, mendudukkan
Saudari Tika) “Saudari Tika, kulihat keadaanmu membaik.”
Saudari
Tika : (memaksakan diri
untuk tersenyum, meneguk air dan menyantap makanan) “Dimana yang lain,
saudari Dewi?” (tanyanya bingung menyaksikan kesunyian)
Saudari
Dewi : “Mereka…” (belum
sempat menjawab, dua pasukan armada Belanda datang)
Komandan
: (mendorong dewi dan
bung mahmud) “Jadi disinikah kalian tinggal? Menyedihkan.” (merendahkan)
B mahmud : Saudara Tika!!!! Lepaskan dia
Komandan : “Shut up! Kalian. Apa kamu ingin temanmu aku tembak?” (kemudian berlajan mendekati saudari Tika
dengan tatapan kejam)
B Mahmud : “Jangan sentuh dia.” (sergahnya
dengan lantang tanpa bergetar sedikitpun nada ucapannya)
Komandan : (menembak kaki B. Mahmud) Oh,
kalian tidak ingin dia yang aku sandra, “Jika dia tak boleh,
bagaimana dengannya?” (melempar
tika lalu berpaling dan menodongkan pistol pada Dewi)
Prajurit : (masuk ke panggung)
“Lapor Komandan! Barisan kapal armada laut meledak di arah jam 12. Kita harus
memeriksanya segera.”
Komandan : (merasa terganggu
kesenangan yang belum sempat dimulainya) “Baiklah. Kau dan dia pergilah
untuk memeriksa.” (mengambil alih senjata milik Prajurit I)
Prajurit : “Tapi Komandan…”
Komandan : “Ahhh,Sudahlah pergi! Ini perintah. Aku akan
baik-baik saja. Si
pemuda itu pun sudah terluka.
Prajurit : “Terus, bagaimana dengan gadis ini komandan”
Komandan : “Bawa Gadis penyakitan itu dan lemparkan dia ke sungai!”
Saudari
Tika : Hentikan.........(meronta-ronta)
B Mahmud
: “Dasar bedebah!” (Mencoba
menyelamatkan Tika)
Prajurit : (menikam Bung Mahmud)
Komandan : “Beraninya dia melakukannya, dasar bodoh…Tenggelamkan
mayatnya di sungai. Cepat!”
Saudari Tika : (histeris) Bung
Mahmud…………
Prajurit : dasar tidak berguna....(menyeret mayat Bung Mahmud keluar panggung)
ADEGAN III
Saudari Sandra : (masuk panggung dengan
pakaian penuh lumpur) “Tika, … Apa yang terjadi?” (terkejut, menjatuhkan
senjatanya dan segera mendatangi rekan-rekannya)
Saudari
Tika : eeeeeee....... (terbata-bata)
Saudari Sandra : “Aku terpisah dari yang lain ketika meledakkan barisan
kapal armada Belanda, aku tak ingin kehilangan kalian pula. Bertahanlah.
Bagaimana dengan yang lain???”
Saudari
Tika : Musnah sudah,.......
Bung Mahmud telah tewas oleh para belanda itu demi menyelamatkan aku. Dan
mayatnya di buang ke sungai. Sedangkan dewi.......
Saudari Sandra : (berbalik mencari arah ketakutan Tika) bedebah
mereka,.... kenapa dewi,.. ada apa???
Komandan
: “Darimana makhluk
menjijikan ini datang!”
Saudari Sandra : “Saudari Dewi! Apa yang kau.........” (tak
menyangka) “jika aku mengiramu tangguh, ternyata semuanya salah! Kau hanya pengecut dan pengkhianat!” (makinya)
Komandan
: (hendak menembak Bung
Rizal namun dihalangi Saudari Dewi) Banyak omong kau makhluk menjijikan...
Saudari
Dewi : “Jangan kau bunuh dulu
sayangku, dia berhak tau motifku yang sebenarnya.”
Saudari Sandra : “Motif katamu. Motifmu hanya kebusukkan!”
Saudari Dewi : (berkeliling mendekati
Saudari Tika) “Oh, tentu saja bukan Sandra. Aku tak seperti yang kau kira.
Aku hanya tak ingin menderita sepertinya. (sombong dan merasa benar pada
tidakannya)
Saudari Sandra : (merasa jijik pada
Saudari Dewi) “Kau pengecut. Kau lupa janjimu pada Rendra. Kau lupa janjimu
pada negeri ini. Kau lupa dirimu!”
Saudari Dewi : (menatap tajam Saudari
Sandra) “Aku tidak menjanjikan apapun pada Bung Rendra! Kecuali janjiku
untuk membahagiakan diriku. Aku adalah kepentinganku. Sedangkan Negara bukanlah
kepentinganku!”
Komandan : (menembak Saudari Dewi, kembali
jeritan terdengar) “Aku benci orang yang mengkhianati negaranya!” (brutal,
menembak Saudari Sandra, menembak Saudari dewi, dan menembak Tika namun pelurunya habis) “Sial! Pistol brengsek!” (membuangnya,
hendak mengambil senjata milik yang tergeletak di tanah namun tertembak lebih
dulu)
Bung Toha : (masuk panggung dengan
berteriak lantang) Hentikan.........
“Jangan sakiti rekan-rekanku!”
Bung Fajar : (kaget) apa yang
terjadi??
Bung Toha : Sudah terlambat Bung Fajar,
mereka telah menyerang markas kita!!!
Bung Fajar : “Matilah kau!” (ingin menembak)
Saudari Sandra : “Jangan! Jangan Bung
Fajar!” (berbicara dengan tersengal dan susah payah) “Gunakan mereka
untuk informasi yang kita butuhkan!”
Bung Toha : (terduduk di samping
Saudari Sandra) “Kupikir aku takkan pernah melihatmu lagi.” (membantu
Saudari Sandra)
Komandan : “Ya, mungkin sebentar lagi.
Peluruku menembus tubuhnya tak jauh dari jantung!”
Bung Toha : (menembak kepala
Komandan) Dasar
Biadab..... Rasakan ini......
Saudari Tika : (terpejam dalam tangis) Saudari Sandra,.... Bertahanlah....
Saudari Sandra : “Sudahlah tika,... Sebentar lagi, aku menyusul Bung
Mahmud. Dia sedang menungguku.” (ucapnya lirih)
Bung
Toha : “.Aku disini juga
menunggumu.”
Saudari Sandra : “Jika kalian bertemu dengan
anak-anakku…” (merogoh kantung dan mengeluarkan selembar foto)
“Ceritakan sejarahku pada mereka, hanya untuk mereka bukan untuk di
besar-besarkan.” (semakin lemah) “Mereka harus tahu, siapa ayahnya.” (terpejam)
“Merdekakan negeri kita, Bung!”
Saudari Tika : Sandra……… Sandra……….
Bung Toha : “Tentu saja! Kita akan
merdeka. AKU BERJANJI. KITA AKAN MERDEKA!”
Siluet Perjuangan
Karya : Sunthi Fatimah
Batu pun bisu ketika pecah
Mata air berhenti mengalir
Udara tak bergerak mengelilingi semesta
Hanya benci berkabut dalam jiwa
Senandung nadi berdecak cepat
Saat kau memekikkan ketakutan itu
Akar-akar musnah
Gersang menerjang
Hari itu
Aku berharap tengah bermimpi
Mimpi buruk yang seharusnya hilang
Ketika kubuka mata
Sayang,...
Tak ada mimpi
Genderang itu nyata
Menerobos selubung hatiku
Dan menusuknya keras
Duniaku mati
Ditelan mimpi nyata
Demi siluet perjuangan tanpa akhir

Tidak ada komentar:
Posting Komentar