tes potensi akademik

Rabu, 20 November 2013

naskah drama bahasa indonesia

naskah drama 8 orang bertemakan pejuangan bagi kawan kawan  yang mencari naskah drama  8orang baiklah agan akan memberikan sebuah naskah drama 8 orang yang bertema perjuangan


SILUET PERJUANGAN
Karya : Sunthi Fatimah

PEMAIN :

                                                                            : BUNG TOHA
                                                                            : BUNG MAHMUD
                                                                            : KOMANDDAN BELANDA
                                                                            : BUNG FAJAR
                                                                            : PRAJURIT BELANDA
                                                                            : SAUDARI SANDRA
                                                                            : SAUDARI TIKA
                                                                            : SAUDARI DEWI


              Pada zaman penjajahan, terdapat pemuda pemudi yang gagah berani memperjuangkan kemerdekaan  dinegeri kita ini, INDONESIA negeri 8 penjuru mata angin dari tangan para penjajah biadab yang menginjak-injak harga diri bangsa tanpa rasa bersalah. Bagaimanakah cara para pemuda tersebut merebut kemerdekaan??? Langsung saja kita saksikan dalam drama berbabak SILUET PERJUANGAN yang di perankan oleh siswa-siswi SMA Negeri 2 Baubau

ADEGAN I
[lighting menyala perlahan. Musik pagi, setting latar beberapa pejuang tengah tertidur. Di kanan kiri mereka, lengkap senjata siap pakai]
Saudari Sandra          : (bangun tidur, menatap sekeliling memastikan ia baru bangun dari mimpi buruk, namun mendapati mimpi itu berlanjut)“Bung Mahmud, bangunlah.” (membangunkan teman seperjuangannya)
Bung Mahmud          : (mendesah pelan penuh beban) “Kupikir aku baru saja mimpi buruk.”
                                 : (ikut terbangun dan mengiyakan ucapan Bung mahmud) Ada apa ini??
Saudari Sandra          : (tertawa keras membuang kecewa yang sama) “Jangan bercanda, bung. Baru kemarin kita lari dari gua persembunyian, karena penjajah-penjajah kurang ajar itu sudah meledakkannya. Itu bukan mimpi.”
Saudari Dewi            : (baru keluar dari tenda sederhana) “Ssssttt… Kalian berisik sekali, bagaimana jika para Belanda itu mendengarnya?”
Bung Mahmud          : (menyambung tawa Saudari Sandra) “ Jangan bercanda saudari Dewi! Kita ini di pusat hutan Kalimantan. Hanya orang Kalimantan asli yang bisa selamat di hutan ini. Sedangkan para Belanda itu, akan lenyap di telan monster sungai Kalimantan!”
Saudari Sandra          : “Benar sekali.”
Saudari Dewi            : (tampak memikirkan perkataan kedua rekannya)
B Mahmud                : (berdiri menatap kedepan, mengingat yang lalu) “Jika gua persembunyian kita di tempat keramat Kalimantan saja bisa mereka ledakkan, tak mustahil untuk membakar hutan ini atau pun menguras sungai kita.”
Saudari Dewi            : (wajahnya menggambarkan rasa takut dan merinding yang luar biasa)”Apa yang di katakan bung mahmud ada benarnya”

[musik memanas]
Bung Fajar                : (masuk ke panggung dengan peluh dan ketakutan) “Sial!
Saudari Sandra, B. Mahmud dan Saudari Dewi : Ada apa????
Bung Fajar                : Aku baru saja melihat pasukan armada laut Belanda menyusuri sungai ke arah jam 12”
Saudari Sandra, B. Mahmud dan Saudari Dewi : “APAAA??!”
Bung Fajar                : (mengangguk) “Sepertinya, mereka mencium jejak kita. Kita harus memblokade akses menuju pusat hutan.”
Saudari Sandra          : “Jika itu benar, kita harus bertindak segera! Saudari Dewi, tetaplah disini bersama Saudari Tika.”


Bung Mahmud          : (tak terima dengan pendapat saudari sandra) “Kita tak bisa meninggalkan mereka, Sesuatu bisa saja terjadi.”
Saudari Dewi            : (giliran tak terima dengan pendapat Bung mahmud juga saudari sandra) “Hei! Aku tak selemah yang kalian kira!”

[musik semakin meninggi]
Saudari Sandra          : (marah) “Saudari Tika dalam keadaan kritis, kita tak bisa membawanya menghadap musuh.”
Bung Mahmud          : “Justru karena dia kritis, aku tak ingin kehilangan untuk kesekian kalinya! Bahaya bisa mengancam kapan saja.”
Saudari Sandra          : (Emosi membara) Tapi,...
B. Mahmud               : “Kontrol emosimu, saudaraku. kita tak bisa meninggalkan mereka disini. Lampiaskan saja amarahmu pada para manusia biadab yang telah menyebabkan kita terpisah dari orang-orang yang kita cintai.”
Saudari Sandra          : “Jagalah mereka, Mahmud!” (pergi mengajak Fajar)
                                 : “Jika sesuatu mengancam, kirimkanlah sinyal kepada kami di arah jam 12. Kami akan membinasakan mereka sebelum mereka sampai kemari.” (pesannya pada Bung Mahmud dan Saudari Dewi)


[ Bung Fajar, Saudari Sandra, keluar panggung dengan tergesa.]
[Lighting redup]

ADEGAN II
Saudari Dewi            : “Seandainya, hari itu aku tidak meninggalkannya di reruntuhan dinding gua. Mungkin sekarang ia bersama kita disini.” (menyesal)
B. Mahmud               : (mempersiapkan) “Janganlah kau tenggelam dalam angan-angan, Saudari Dewi. Kematian Bung Rendra sudah ditakdirkan, ikhlaskan saja.” (mengambil senjata) “Daripada kau terus menyesal, sebaiknya bantu aku untuk menyiapkan penjagaan.”
Saudari Dewi            : “Saat itu Rendra berjanji padaku, jika negeri ini merdeka kami akan berbulan madu bersama.”
B. Mahmud               : “Sudahlah. Kita boleh berencana tetapi Tuhan yang punya kehendak.”
Saudari Tika             : (keluar dari tenda dengan pakaian yang berantakan dan merangkak) “Saudari Dewi, bisakah aku meminta air?” (pintanya parau)
Saudari Dewi            : (mendatangi saudari Tika dengan memberi sebotol air minum dan makanan yang tersedia, mendudukkan Saudari Tika) “Saudari Tika, kulihat keadaanmu membaik.”
Saudari Tika             : (memaksakan diri untuk tersenyum, meneguk air dan menyantap makanan) “Dimana yang lain, saudari Dewi?” (tanyanya bingung menyaksikan kesunyian)
Saudari Dewi            : “Mereka…” (belum sempat menjawab, dua pasukan armada Belanda datang)
Komandan                : (mendorong dewi dan bung mahmud) “Jadi disinikah kalian tinggal? Menyedihkan.” (merendahkan)
B mahmud                : Saudara Tika!!!! Lepaskan dia
Komandan                : “Shut up! Kalian. Apa kamu ingin temanmu aku tembak?” (kemudian berlajan mendekati saudari Tika dengan tatapan kejam)
B Mahmud                : “Jangan sentuh dia.” (sergahnya dengan lantang tanpa bergetar sedikitpun nada ucapannya)
Komandan                : (menembak kaki B. Mahmud) Oh, kalian tidak ingin dia yang aku sandra, “Jika dia tak boleh, bagaimana dengannya?” (melempar tika lalu berpaling dan menodongkan pistol pada Dewi)
Prajurit                      : (masuk ke panggung) “Lapor Komandan! Barisan kapal armada laut meledak di arah jam 12. Kita harus memeriksanya segera.”
Komandan                : (merasa terganggu kesenangan yang belum sempat dimulainya) “Baiklah. Kau dan dia pergilah untuk memeriksa.” (mengambil alih senjata milik Prajurit I)
Prajurit                      : “Tapi Komandan…”
Komandan                : “Ahhh,Sudahlah pergi! Ini perintah. Aku akan baik-baik saja. Si pemuda itu pun sudah terluka.


Prajurit                      : “Terus, bagaimana dengan gadis ini komandan”
Komandan                : “Bawa Gadis penyakitan itu dan lemparkan dia ke sungai!”
Saudari Tika             : Hentikan.........(meronta-ronta)
B Mahmud                : “Dasar bedebah!” (Mencoba menyelamatkan Tika)
Prajurit                      : (menikam Bung Mahmud)
Komandan                : “Beraninya dia melakukannya, dasar bodoh…Tenggelamkan mayatnya di sungai.  Cepat!”
Saudari Tika             : (histeris) Bung Mahmud…………
Prajurit                      : dasar tidak berguna....(menyeret mayat Bung Mahmud keluar panggung)


ADEGAN III
Saudari Sandra          : (masuk panggung dengan pakaian penuh lumpur) “Tika, … Apa yang terjadi?” (terkejut, menjatuhkan senjatanya dan segera mendatangi rekan-rekannya)
Saudari Tika             : eeeeeee....... (terbata-bata)
Saudari Sandra          : “Aku terpisah dari yang lain ketika meledakkan barisan kapal armada Belanda, aku tak ingin kehilangan kalian pula. Bertahanlah. Bagaimana dengan yang lain???”
Saudari Tika             : Musnah sudah,....... Bung Mahmud telah tewas oleh para belanda itu demi menyelamatkan aku. Dan mayatnya di buang ke sungai. Sedangkan dewi.......
Saudari Sandra          : (berbalik mencari arah ketakutan Tika) bedebah mereka,.... kenapa dewi,.. ada apa???
Komandan                : “Darimana makhluk menjijikan ini datang!”
Saudari Sandra          : “Saudari Dewi! Apa yang kau.........” (tak menyangka) “jika aku mengiramu tangguh, ternyata semuanya salah!  Kau hanya pengecut dan pengkhianat!” (makinya)
Komandan                : (hendak menembak Bung Rizal namun dihalangi Saudari Dewi) Banyak omong kau makhluk menjijikan...
Saudari Dewi            : “Jangan kau bunuh dulu sayangku, dia berhak tau motifku yang sebenarnya.”
Saudari Sandra          : “Motif katamu. Motifmu hanya kebusukkan!”
Saudari Dewi            : (berkeliling mendekati Saudari Tika) “Oh, tentu saja bukan Sandra. Aku tak seperti yang kau kira. Aku hanya tak ingin menderita sepertinya. (sombong dan merasa benar pada tidakannya)
Saudari Sandra          : (merasa jijik pada Saudari Dewi) “Kau pengecut. Kau lupa janjimu pada Rendra. Kau lupa janjimu pada negeri ini. Kau lupa dirimu!”
Saudari Dewi            : (menatap tajam Saudari Sandra) “Aku tidak menjanjikan apapun pada Bung Rendra! Kecuali janjiku untuk membahagiakan diriku. Aku adalah kepentinganku. Sedangkan Negara bukanlah kepentinganku!”
Komandan                : (menembak Saudari Dewi, kembali jeritan terdengar) “Aku benci orang yang mengkhianati negaranya!” (brutal, menembak Saudari Sandra, menembak Saudari dewi, dan menembak Tika namun pelurunya habis) “Sial! Pistol brengsek!” (membuangnya, hendak mengambil senjata milik yang tergeletak di tanah namun tertembak lebih dulu)
Bung Toha                : (masuk panggung dengan berteriak lantang) Hentikan......... “Jangan sakiti rekan-rekanku!”
Bung Fajar                : (kaget) apa yang terjadi??
Bung Toha                : Sudah terlambat Bung Fajar, mereka telah menyerang markas kita!!!
Bung Fajar                : “Matilah kau!” (ingin menembak)
Saudari Sandra          : “Jangan! Jangan Bung Fajar!” (berbicara dengan tersengal dan susah payah) “Gunakan mereka untuk informasi yang kita butuhkan!”
Bung Toha                : (terduduk di samping Saudari Sandra) “Kupikir aku takkan pernah melihatmu lagi.” (membantu Saudari Sandra)
Komandan                : “Ya, mungkin sebentar lagi. Peluruku menembus tubuhnya tak jauh dari jantung!”
Bung Toha                : (menembak kepala Komandan) Dasar Biadab..... Rasakan ini......
Saudari Tika             : (terpejam dalam tangis) Saudari Sandra,.... Bertahanlah....
Saudari Sandra          : “Sudahlah tika,... Sebentar lagi, aku menyusul Bung Mahmud. Dia sedang menungguku.” (ucapnya lirih)
Bung Toha                : “.Aku disini juga menunggumu.”
Saudari Sandra          : “Jika kalian bertemu dengan anak-anakku…” (merogoh kantung dan mengeluarkan selembar foto) “Ceritakan sejarahku pada mereka, hanya untuk mereka bukan untuk di besar-besarkan.” (semakin lemah) “Mereka harus tahu, siapa ayahnya.” (terpejam) “Merdekakan negeri kita, Bung!”
Saudari Tika             : Sandra……… Sandra……….
Bung Toha                : “Tentu saja! Kita akan merdeka. AKU BERJANJI. KITA AKAN MERDEKA!”




Siluet Perjuangan
Karya : Sunthi Fatimah


Batu pun bisu ketika pecah
Mata air berhenti mengalir
Udara tak bergerak mengelilingi semesta
Hanya benci berkabut dalam jiwa
Senandung nadi berdecak cepat
Saat kau memekikkan ketakutan itu
Akar-akar musnah
Gersang menerjang
Hari itu
Aku berharap tengah bermimpi
Mimpi buruk yang seharusnya hilang
Ketika kubuka mata
Sayang,...
Tak ada mimpi
Genderang itu nyata
Menerobos selubung hatiku
Dan menusuknya keras
Duniaku mati
Ditelan mimpi nyata
Demi siluet perjuangan tanpa akhir



SILUET PERJUANGAN
Karya : Sunthi Fatimah

PEMAIN :

                                                                            : BUNG TOHA
                                                                            : BUNG MAHMUD
                                                                            : KOMANDDAN BELANDA
                                                                            : BUNG FAJAR
                                                                            : PRAJURIT BELANDA
                                                                            : SAUDARI SANDRA
                                                                            : SAUDARI TIKA
                                                                            : SAUDARI DEWI


              Pada zaman penjajahan, terdapat pemuda pemudi yang gagah berani memperjuangkan kemerdekaan  dinegeri kita ini, INDONESIA negeri 8 penjuru mata angin dari tangan para penjajah biadab yang menginjak-injak harga diri bangsa tanpa rasa bersalah. Bagaimanakah cara para pemuda tersebut merebut kemerdekaan??? Langsung saja kita saksikan dalam drama berbabak SILUET PERJUANGAN yang di perankan oleh siswa-siswi SMA Negeri 2 Baubau

ADEGAN I
[lighting menyala perlahan. Musik pagi, setting latar beberapa pejuang tengah tertidur. Di kanan kiri mereka, lengkap senjata siap pakai]
Saudari Sandra          : (bangun tidur, menatap sekeliling memastikan ia baru bangun dari mimpi buruk, namun mendapati mimpi itu berlanjut)“Bung Mahmud, bangunlah.” (membangunkan teman seperjuangannya)
Bung Mahmud          : (mendesah pelan penuh beban) “Kupikir aku baru saja mimpi buruk.”
                                 : (ikut terbangun dan mengiyakan ucapan Bung mahmud) Ada apa ini??
Saudari Sandra          : (tertawa keras membuang kecewa yang sama) “Jangan bercanda, bung. Baru kemarin kita lari dari gua persembunyian, karena penjajah-penjajah kurang ajar itu sudah meledakkannya. Itu bukan mimpi.”
Saudari Dewi            : (baru keluar dari tenda sederhana) “Ssssttt… Kalian berisik sekali, bagaimana jika para Belanda itu mendengarnya?”
Bung Mahmud          : (menyambung tawa Saudari Sandra) “ Jangan bercanda saudari Dewi! Kita ini di pusat hutan Kalimantan. Hanya orang Kalimantan asli yang bisa selamat di hutan ini. Sedangkan para Belanda itu, akan lenyap di telan monster sungai Kalimantan!”
Saudari Sandra          : “Benar sekali.”
Saudari Dewi            : (tampak memikirkan perkataan kedua rekannya)
B Mahmud                : (berdiri menatap kedepan, mengingat yang lalu) “Jika gua persembunyian kita di tempat keramat Kalimantan saja bisa mereka ledakkan, tak mustahil untuk membakar hutan ini atau pun menguras sungai kita.”
Saudari Dewi            : (wajahnya menggambarkan rasa takut dan merinding yang luar biasa)”Apa yang di katakan bung mahmud ada benarnya”

[musik memanas]
Bung Fajar                : (masuk ke panggung dengan peluh dan ketakutan) “Sial!
Saudari Sandra, B. Mahmud dan Saudari Dewi : Ada apa????
Bung Fajar                : Aku baru saja melihat pasukan armada laut Belanda menyusuri sungai ke arah jam 12”
Saudari Sandra, B. Mahmud dan Saudari Dewi : “APAAA??!”
Bung Fajar                : (mengangguk) “Sepertinya, mereka mencium jejak kita. Kita harus memblokade akses menuju pusat hutan.”
Saudari Sandra          : “Jika itu benar, kita harus bertindak segera! Saudari Dewi, tetaplah disini bersama Saudari Tika.”


Bung Mahmud          : (tak terima dengan pendapat saudari sandra) “Kita tak bisa meninggalkan mereka, Sesuatu bisa saja terjadi.”
Saudari Dewi            : (giliran tak terima dengan pendapat Bung mahmud juga saudari sandra) “Hei! Aku tak selemah yang kalian kira!”

[musik semakin meninggi]
Saudari Sandra          : (marah) “Saudari Tika dalam keadaan kritis, kita tak bisa membawanya menghadap musuh.”
Bung Mahmud          : “Justru karena dia kritis, aku tak ingin kehilangan untuk kesekian kalinya! Bahaya bisa mengancam kapan saja.”
Saudari Sandra          : (Emosi membara) Tapi,...
B. Mahmud               : “Kontrol emosimu, saudaraku. kita tak bisa meninggalkan mereka disini. Lampiaskan saja amarahmu pada para manusia biadab yang telah menyebabkan kita terpisah dari orang-orang yang kita cintai.”
Saudari Sandra          : “Jagalah mereka, Mahmud!” (pergi mengajak Fajar)
                                 : “Jika sesuatu mengancam, kirimkanlah sinyal kepada kami di arah jam 12. Kami akan membinasakan mereka sebelum mereka sampai kemari.” (pesannya pada Bung Mahmud dan Saudari Dewi)


[ Bung Fajar, Saudari Sandra, keluar panggung dengan tergesa.]
[Lighting redup]

ADEGAN II
Saudari Dewi            : “Seandainya, hari itu aku tidak meninggalkannya di reruntuhan dinding gua. Mungkin sekarang ia bersama kita disini.” (menyesal)
B. Mahmud               : (mempersiapkan) “Janganlah kau tenggelam dalam angan-angan, Saudari Dewi. Kematian Bung Rendra sudah ditakdirkan, ikhlaskan saja.” (mengambil senjata) “Daripada kau terus menyesal, sebaiknya bantu aku untuk menyiapkan penjagaan.”
Saudari Dewi            : “Saat itu Rendra berjanji padaku, jika negeri ini merdeka kami akan berbulan madu bersama.”
B. Mahmud               : “Sudahlah. Kita boleh berencana tetapi Tuhan yang punya kehendak.”
Saudari Tika             : (keluar dari tenda dengan pakaian yang berantakan dan merangkak) “Saudari Dewi, bisakah aku meminta air?” (pintanya parau)
Saudari Dewi            : (mendatangi saudari Tika dengan memberi sebotol air minum dan makanan yang tersedia, mendudukkan Saudari Tika) “Saudari Tika, kulihat keadaanmu membaik.”
Saudari Tika             : (memaksakan diri untuk tersenyum, meneguk air dan menyantap makanan) “Dimana yang lain, saudari Dewi?” (tanyanya bingung menyaksikan kesunyian)
Saudari Dewi            : “Mereka…” (belum sempat menjawab, dua pasukan armada Belanda datang)
Komandan                : (mendorong dewi dan bung mahmud) “Jadi disinikah kalian tinggal? Menyedihkan.” (merendahkan)
B mahmud                : Saudara Tika!!!! Lepaskan dia
Komandan                : “Shut up! Kalian. Apa kamu ingin temanmu aku tembak?” (kemudian berlajan mendekati saudari Tika dengan tatapan kejam)
B Mahmud                : “Jangan sentuh dia.” (sergahnya dengan lantang tanpa bergetar sedikitpun nada ucapannya)
Komandan                : (menembak kaki B. Mahmud) Oh, kalian tidak ingin dia yang aku sandra, “Jika dia tak boleh, bagaimana dengannya?” (melempar tika lalu berpaling dan menodongkan pistol pada Dewi)
Prajurit                      : (masuk ke panggung) “Lapor Komandan! Barisan kapal armada laut meledak di arah jam 12. Kita harus memeriksanya segera.”
Komandan                : (merasa terganggu kesenangan yang belum sempat dimulainya) “Baiklah. Kau dan dia pergilah untuk memeriksa.” (mengambil alih senjata milik Prajurit I)
Prajurit                      : “Tapi Komandan…”
Komandan                : “Ahhh,Sudahlah pergi! Ini perintah. Aku akan baik-baik saja. Si pemuda itu pun sudah terluka.


Prajurit                      : “Terus, bagaimana dengan gadis ini komandan”
Komandan                : “Bawa Gadis penyakitan itu dan lemparkan dia ke sungai!”
Saudari Tika             : Hentikan.........(meronta-ronta)
B Mahmud                : “Dasar bedebah!” (Mencoba menyelamatkan Tika)
Prajurit                      : (menikam Bung Mahmud)
Komandan                : “Beraninya dia melakukannya, dasar bodoh…Tenggelamkan mayatnya di sungai.  Cepat!”
Saudari Tika             : (histeris) Bung Mahmud…………
Prajurit                      : dasar tidak berguna....(menyeret mayat Bung Mahmud keluar panggung)


ADEGAN III
Saudari Sandra          : (masuk panggung dengan pakaian penuh lumpur) “Tika, … Apa yang terjadi?” (terkejut, menjatuhkan senjatanya dan segera mendatangi rekan-rekannya)
Saudari Tika             : eeeeeee....... (terbata-bata)
Saudari Sandra          : “Aku terpisah dari yang lain ketika meledakkan barisan kapal armada Belanda, aku tak ingin kehilangan kalian pula. Bertahanlah. Bagaimana dengan yang lain???”
Saudari Tika             : Musnah sudah,....... Bung Mahmud telah tewas oleh para belanda itu demi menyelamatkan aku. Dan mayatnya di buang ke sungai. Sedangkan dewi.......
Saudari Sandra          : (berbalik mencari arah ketakutan Tika) bedebah mereka,.... kenapa dewi,.. ada apa???
Komandan                : “Darimana makhluk menjijikan ini datang!”
Saudari Sandra          : “Saudari Dewi! Apa yang kau.........” (tak menyangka) “jika aku mengiramu tangguh, ternyata semuanya salah!  Kau hanya pengecut dan pengkhianat!” (makinya)
Komandan                : (hendak menembak Bung Rizal namun dihalangi Saudari Dewi) Banyak omong kau makhluk menjijikan...
Saudari Dewi            : “Jangan kau bunuh dulu sayangku, dia berhak tau motifku yang sebenarnya.”
Saudari Sandra          : “Motif katamu. Motifmu hanya kebusukkan!”
Saudari Dewi            : (berkeliling mendekati Saudari Tika) “Oh, tentu saja bukan Sandra. Aku tak seperti yang kau kira. Aku hanya tak ingin menderita sepertinya. (sombong dan merasa benar pada tidakannya)
Saudari Sandra          : (merasa jijik pada Saudari Dewi) “Kau pengecut. Kau lupa janjimu pada Rendra. Kau lupa janjimu pada negeri ini. Kau lupa dirimu!”
Saudari Dewi            : (menatap tajam Saudari Sandra) “Aku tidak menjanjikan apapun pada Bung Rendra! Kecuali janjiku untuk membahagiakan diriku. Aku adalah kepentinganku. Sedangkan Negara bukanlah kepentinganku!”
Komandan                : (menembak Saudari Dewi, kembali jeritan terdengar) “Aku benci orang yang mengkhianati negaranya!” (brutal, menembak Saudari Sandra, menembak Saudari dewi, dan menembak Tika namun pelurunya habis) “Sial! Pistol brengsek!” (membuangnya, hendak mengambil senjata milik yang tergeletak di tanah namun tertembak lebih dulu)
Bung Toha                : (masuk panggung dengan berteriak lantang) Hentikan......... “Jangan sakiti rekan-rekanku!”
Bung Fajar                : (kaget) apa yang terjadi??
Bung Toha                : Sudah terlambat Bung Fajar, mereka telah menyerang markas kita!!!
Bung Fajar                : “Matilah kau!” (ingin menembak)
Saudari Sandra          : “Jangan! Jangan Bung Fajar!” (berbicara dengan tersengal dan susah payah) “Gunakan mereka untuk informasi yang kita butuhkan!”
Bung Toha                : (terduduk di samping Saudari Sandra) “Kupikir aku takkan pernah melihatmu lagi.” (membantu Saudari Sandra)
Komandan                : “Ya, mungkin sebentar lagi. Peluruku menembus tubuhnya tak jauh dari jantung!”
Bung Toha                : (menembak kepala Komandan) Dasar Biadab..... Rasakan ini......
Saudari Tika             : (terpejam dalam tangis) Saudari Sandra,.... Bertahanlah....
Saudari Sandra          : “Sudahlah tika,... Sebentar lagi, aku menyusul Bung Mahmud. Dia sedang menungguku.” (ucapnya lirih)
Bung Toha                : “.Aku disini juga menunggumu.”
Saudari Sandra          : “Jika kalian bertemu dengan anak-anakku…” (merogoh kantung dan mengeluarkan selembar foto) “Ceritakan sejarahku pada mereka, hanya untuk mereka bukan untuk di besar-besarkan.” (semakin lemah) “Mereka harus tahu, siapa ayahnya.” (terpejam) “Merdekakan negeri kita, Bung!”
Saudari Tika             : Sandra……… Sandra……….
Bung Toha                : “Tentu saja! Kita akan merdeka. AKU BERJANJI. KITA AKAN MERDEKA!”




Siluet Perjuangan
Karya : Sunthi Fatimah


Batu pun bisu ketika pecah
Mata air berhenti mengalir
Udara tak bergerak mengelilingi semesta
Hanya benci berkabut dalam jiwa
Senandung nadi berdecak cepat
Saat kau memekikkan ketakutan itu
Akar-akar musnah
Gersang menerjang
Hari itu
Aku berharap tengah bermimpi
Mimpi buruk yang seharusnya hilang
Ketika kubuka mata
Sayang,...
Tak ada mimpi
Genderang itu nyata
Menerobos selubung hatiku
Dan menusuknya keras
Duniaku mati
Ditelan mimpi nyata
Demi siluet perjuangan tanpa akhir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar