1.
TEMA
Tema dalam Cerpen
“DARMON” yaitu pemuda kumal yang baik hati dan berwawasan luas.
2.
ALUR
Alur
yang digunakan dalam cerpen “Darmon” tersebut yaitu Alur menggantung karena berakhir pada klimaks
dan tidak ada penyelesaian. Misalnya, tidak diceritakan bagaimana nasib tokoh
Darmon dan Sanip selanjutnya.
3.
SUDUT
PANDANG
Sudut
pandangnya yaitu penulis menempatkan dirinya sebagai orang pertama bukan pelaku
utama. Karena tokoh Darmon merupakan tokoh utama karena dialah yang
menjadi sumber percakapan, sengketa, penyebab munculnya suatu peristiwa, dan
penentu alur dalam cerita.
4.
TOKOH/PENOKOHAN
* Tokoh
Darmon
baik, cerdas, dan memiliki cita-cita mulia. protagonis mengingat
kelebihan dan perilaku baik yang ia miliki.
sulit ditebak sehingga penuh kejutan. Dia juga tampak dingin
dalam menghadapi peristiwa, yaitu saat bertemu Maya, padahal tujuan utama dia
berkunjung adalah bertemu Maya. Seperti pada kutipan berikut : “Bahkan, ketika Maya pulang,
mendorong pintu pagar, hampir-hampir tidak menjadi perhatian benar bagi
Darmon.”
* Tokoh
Aku
Tokoh aku merupakan tokoh protagonis. Karena tokoh Aku adalah
seorang pegawai negeri yang jujur. Tokoh Aku juga merupakan tokoh yang
membentuk konflik. Tokoh aku berperan dalam mengantarkan cerita.
* Tokoh Maya
Juga merupakan
tokoh yang membentuk konflik. Tokoh Maya bisa dibilang
sebagai tokoh antagonis. Karena Tokoh Maya yang melecehkan Tokoh Darmon.
Seperti pada kutipan berikut :
"Ih, Papa. Orang
begitu saja dilayani," jawabnya.
"Jadi, dia bukan
pacar kamu?"
"Amit-amit, Pa.
Kalau yang begituan, di kampus banyak, tuh."
* Tokoh
Sanip
Tokoh yang berperan sebagai tokoh antagonis. Karena memiliki
sifat yang negatif. Yaitu pegawai negeri yang sering melakukan tindak
korupsi. Dapat dilihat dari kutipan :
Dia. Sanip itu, memang,
biang kongkalikong di kantor. Yang penting kantungnya penuh. Tidak peduli itu
bukan uang nenek moyangnya.
* Tokoh
Rini (istri tokoh Aku)
Tokoh antagonis, karena bersifat
negative. Juga merupakan tokoh yang membentuk konflik. Tokoh Rini adalah orang
yang selalu mementingkan hal yang bersifat material. Dapat dilihat dari
percakapan berikut :
"Mahasiswa gembel
begitu saja diajak ngobrol ngalor-ngidul. Akrab lagi. Kemaren ini, Sanip datang
menawarkan taktik untuk menggaet proyek, eh, malah disuruh pergi."
"Dia. Sanip itu,
memang, biang kongkalikong di kantor. Yang penting kantungnya penuh. Tidak
peduli itu bukan uang nenek moyangnya. Dia itu sudah pernah kena peringatan.
Untung bos kami masih kasihan. Kalau tidak, dia itu diadili," jelas saya.
"Makanya,
pandai-pandai, agar kita bisa hidup agak lumayan."
5.
GAYA BAHASA
·
Personifikasi. Misalnya
pada kalimat “senja mulai merambat”
·
Hiperbola. Misalnya pada
kalimat “asap rokok yang keliahatan mahal” dan “membuang
pandang jauh ke depan, menembus tembok kantor”.
6.
LATAR/SETTING
· Tempat : Di halaman rumah, di teras rumah, di meja makan, di
kantor dan di kantin kantor.
· Waktu : Sore menjelang maghrib, malam (jam makan malam) dan pagi
(jam kantor).
·
Suasana :
- Tegang. Karena pada saat di meja
makan keluarga Tokoh Aku berdebat.
- Menjengkelkan, sebab pada saat
Darmon datang bertamu, Tokoh Aku jengkel terhadap Darmon yang berpenampilan
kumal dan seperti gembel. Dan juga pada saat di meja makan, Tokoh Maya serta
Rina juga jengkel terhadap Darmon.
-
Marah, karena Sanip
selalu terlambat mengirimkan arsip-arsip atas nama bosnya yang disuruh oleh
Tokoh Aku, sehingga membuat tokoh Aku marah.
- Lucu, dapat dilihat dari suasana
ketika Tokoh Aku mengajak Sanip ke katin untuk ngopi, Sanip menjawab sudah, tiba-tiba menjawab belum.
-
Sedih, karena Sanip tidak
mampu melanjutkan kuliah anaknya Darmon.
-
Dan mengharukan sebab
Sanip meski tidak memiliki jabatan yang tinggi, namun dia ingin anaknya Darmon
menjadi lebih baik darinya.
7.
AMANAT
Cerita para tokoh dalam cerpen tersebut dapat dijadikan
sebuah pelajaran yang amat berharga bagi kita. Bagaimana menyikapi suatu
permasalahan seperti yang terjadi antara tokoh cerpen tersebut merupakan sebuah
pelajaran berharga yang didapatkan dari sebuah kegiatan membaca cerpen. Amanat
dalam Cerpen itu misalnya seperti :
· Jangan melihat seseorang
dari fisiknya saja. Seperti Tokoh Darmon, meski dia kelihatan seperti gembel
dan tampak kumal, namun wawasannya luas dan juga baik hati. Dia mampu mengungkapkan
banyak hal besar, yaitu masalah reformasi, korupsi, perilaku mahasiswa yang
beragam, perilaku pegawai negeri selaku pelayan masyarakat, serta lingkaran
antara perjuangan reformasi dan tuntutan memenuhi kebutuhan hidup.
· Jangan terlalu memaksa
akan keinginan atau kebutuhan hidup, seperti hal-hal yang berbau material.
Syukuri saja semuanya.
· Tidak boleh memakan uang
yang bukan hak kita atau dengan kata lain jangan melakukan tindak korupsi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar